Dinginkan suasana dengan shalat
July 4th, 2008Dari Abu Sa’id ra, katanya: Nabi saw bersabda: “Dinginkanlah suasana dengan melakukan shalat ! Sesungguhnya panas yang sangat itu karena gejolak api neraka.”
Dari Abu Sa’id ra, katanya: Nabi saw bersabda: “Dinginkanlah suasana dengan melakukan shalat ! Sesungguhnya panas yang sangat itu karena gejolak api neraka.”
Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat pertengahan. (al-Baqarah [2]: 143)
Kalian adalah umat pertengahan (ummatan wasathan). Pertengahan antara umat Yahudi yang membinasakan para nabi dan antara umat Nasrani yang menuhankan nabi. Kalian adalah umat pertengahan dari sisi sejarah; kalian tidak datang di awal masa sehingga tidak memiliki latar belakang sejarah dan pengalaman bidup, tetapi tidak pula dihadirkan di akhir masa. Kalian datang sesudah umat terdahulu dan akan diikuti oleh generasi yang akan datang. Dengan demikian kalian mendapat ‘ibrah dan umat terdahulu dan memberi teladan bagi yang akan datang.
Kalian adalah umat pertengahan ditinjau dan letak geografis di muka bumi. Kalian tidak berada di ujung dunia, tetapi berada di tengah-tengah pusat peradaban. Agama kalian lahir di pusat bumi (umm al-qura); agar dari situ kalian membagikan hidayah pada umat manusia.
Kaian adalah umat pertengahan dalam beragama. Tidak mempentuhankan segalanya; batu, pohon, dan benda-benda angkasa seperti halnya agama onang-orang musvrik. Kalian juga tidak mengingkani adanya Tuhan, secara global maupun terperinci, seperti dilakukan oleh sebagian umat. Namun kalian menyembah Tuhan Yang Maha Melaksanakan kehendak-Nya (Qahhar), Mahaperkasa (’Aziz), dan Maha Pengampun (Ghaffar).
Dalam penghidupan, kalian adalah umat pertengahan; tidak mengikuti gaya hidup orang-orang Yahudi yang glamor dan berlebihan, dan tidak pula meniru hidup umat Nasrani yang bergaya kependetaan, memutuskan diri dari dunia, dan menyiksa batin. Kalian memberikan hak bagi kehidupan jasad,se gaimana bagi kehidupan jiwa.
Dalam kehidupan budaya, kalian adalah umat pertengahan. Kalian tidak seperti orang-orang Parsi yang hidupnya hanya untuk hiburan dan kesenian, dan bukan seperti orang-orang Romawi yang mengharamkan kesenangan dunia dari hidup. Kalian dapat menikmati keindahan yang mubah dan halal, yang mempunyai nilai manfaat dan berdaya guna dari segala jenis kesenangan hidup.
Kalian adakih umat pertengahan dalam akhlak; tidak melakukan perbuatan bangsa Barbar yang keji, melampaui batas, dan sewenang-wenang. Kalian juga bukan umat yang gampang menyerah dan hina di hadapan musuh, seperti mereka yang berkata, “Jika pipi kananmu ditampar, maka benikan pipi kirimu.” Kalian adalah umat yang memiliki kelembutan dan kesantunan bagi siapa yang berhak serta kejantanan dan pembalasan bagi siapa yang menindas; dan masing-masing mendapat perlakuan yang sepantasnya.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, kalian adalah umat pertengahan; tidak menjadikan ilmu sebagai tujuan sebagaimana dilakukan oleh bangsa Yunani, bukan pula bangsa primitif yang tidak mengenal arti ilmu pengetahuan. Akan tetapi kalian menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai jembatan menuju keutamaan dan cara untuk meraih kebaikan dan kemenangan dunia maupun akhirat.
Dalam ibadah, kalian adalah umat pertengahan; tidak berpaling dari upacara penibadatan sebagaimana orang-orang fasik, tidak juga memberatkan diri melalui upacara-upacara penyiksaan diri seperti perbuatan para penghuni kuil yang ekstrim. Kalian beribadah secara adil, baik, dan berkualitas.
Dalam dunia pemikiran, ka1ian adalah umat pertengahan. Kalian tidak tenggelam di alam khayal dan imajinasi seperti kebanyakan para penyair; tidak juga jumud seperti para filosof yang membunuh perasaan dan menelantarkan intuisi sehingga jiwa mereka kering dan hati mereka menjadi keras. Kalian berjalan menelusuri hakikat, tidak memisahkan antara kekuatan dan kasih sayang, realitas dan keindahan, serta teks dan makna. Kalian berada pada posisi pertengahan di antara dua sisi, kebaikan di antara dua sisi keburukan, keselamatan di antara dua sisi kehancuran.
Allah telah memberikan taufik kepada Ahlussunah wal Jama’ah, sehingga tidak menganut mazhab “Qadariyyah” yang berpendapat bahwa segala yang terjadi adalah tanpa ada campur tangan qadha Allah, atau mazhab “Jabariyyah” yang benpandangan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak, dalam pengertian bahwa mereka dalam keadaan “terpaksa” melakukan perbuatan mereka, baik ketaatan maupun kemaksiatan. Mazhab Ahlussunah wal Jama’ah menetapkan adanya ilmu Allah, qadha, qudrah, dan kehendak-Nya (masyiah), yang berarti bahwa manusia mempunyai kehendak, di bawah kehendak Allah SWT.
Ahlussunah wal Jama’ah berada pada posisi pertengahan dalam persoalan janji dan ancaman Allah. Antara pendapat Khawarij yang meyakini bahwa orang yang melakukan dosa besar hukumnya kafir, dan antara pendapat Murji’ah yang berpandangan bahwa selama orang masih dalam keadaan beriman, maka dosa macam apapun tidak akan membahayakan iman. Ahlussunah tidak menghukumi kafir atas orang yang melakukan dosa besar tetapi menggolongkan mereka sebagai orang yang fasik.
Ahlussunah wal Jama’ah berada pada posisi pertengahan di antana mazhab yang menafikan asma dan sifat Allah, dengan mereka yang menyejajarkan Allah dengan makhluk-Nya dalam bab ini. Ahlussunah wal Jama’ah menetapkan asma dan sifat Allah sebagaimana ditetapkan oleh Allah dan Rasul, tanpa mengatakan bagaimana (takyif) menyerupakan Tuhan dengan makhluk (tasybih) atau menafikan asma dan sifat Allah (ta’thil).
Allah tidak serupa dengan apapun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (asy-Syûra 1421:11)
Mereka berada pada posisi pentengahan dalam persoalan cinta kepada Ahlul Bait, pertengahan antara sikap Nawashib yang mencela Ahlul Bait dan Rawafidh yang berlebihan sehingga mencela para sahabat demi cinta mereka pada Ahlul Bait. Ahlussunah mencintai Ahlul Bait namun mendudukkan Ahlul Bait pada kedudukan yang layak.
Sumber: Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an - Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni, M.A.
Menyerupai malaikat
Di tahun perang Khaibarlah ia datang kepada Rasulullah SAW unutk bai’at. Dan semenjak ia menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya itu beroleh penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia pada dirinya tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia.
Pertanda ini merupakan suatu bukti yang jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus.
‘Imran bin Hushain RA merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud, dan keshalehan serta mati-matian dalam mencinatai Allah dan mentaati-Nya. Walaupun ia beroleh taufik dan petunjuk Allah yang tidak terkira, tetapi ia sering menangis mencucurkan air mata, ratapnya, “Wahai, kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja!”.
Orang-orang itu takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka! Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah ruku’ dan dujud, tetapi ibadahnya, dan syukurnya itu belumlah memadai nikmat yang mereka telah terima.
Pernah suatu saat beberapa orang sahabat menanyakan pada Rasulullah SAW:
“Ya Rasulullah, kenapa kami ini? Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala.
Tetapi demi kami meninggalkanmu dan kami berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupakan diri?”
Ujar Rasulullah SAW:
“Demi Allah, Yang nyawaku berada dalam tangan-Nya! Seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu! Tetapi, yah yang demikian itu hanya sewaktu-waktu!”
Pembicaraan itu kedengaran oleh ‘Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut, bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun! Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu, tetapi ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Robbul’alamin.
Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, ’Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami Agama. Demikianlah di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka demi dikenal penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketaqwaannya.
Berkata Hasan Basri dan Ibnu Sirin, “Tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasul SAW yang datang ke Bashrah, lebih utama dari ‘Imran bin Hushain!”.
Dalam beribadah dan hubungannya dengan Allah, ‘Imran tak sudi diganggu oleh sesuatu pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadah, hingga seakan-akan ia bukan penduduk bumi yang didiaminya ini lagi! Sungguh, seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup di lingkungan Malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.
Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara Kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja ‘Imran bersikap tidak memihak, bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangan dalam perang tersebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Katanya pada mereka, “Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak!”
Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, diamanatkannya, “Tetaplah tinggal di mesjidmu! Dan jika ada yang memasuki mesjidmu, tinggallah di rumahmu! Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia.
Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring.
Dan ketika para sahabatnya dan orang-orang yang menjenguknya datang dan menghibur hatinya tenhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil ujarnya, “Sesungguhnya barang yang paling kusukai, ialah apa yang paling disukai Allah!” Dan sewaktu ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum kerabatnya dan para shahabatnya, ialah, “Jika kalian telah kembali dan pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan!”
Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan! Karena kematian seorang Mu’min seperti Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya! Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana suatu ruh yang tinggi yang ridla dan diridlai-Nya diarak ke dalam surga, yang besarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang taqwa.
Surah ini mengandung topik-topik yang amat kuat penjelasannya. la membicarakan berbagai hakikat yang besar. Sentuhan-sentuhannya amat mendalam. la mengemukakan gambaran-gambaran, bayangan-bayangan dan saran-saran yang unik. Ayat-ayatnya melahirkan nada-nada yang indah yang mengocak perasaan dan memberi ilham.
Bagian pertama surah ini membicarakan salah satu peristiwa yang terjadi dalam sirah Rasulullah SAW, yaitu ketika beliau sedang sibuk melayani rombongan pembesar-pembesar Quraysy untuk menyeru mereka kepada agama Islam, tiba-tiba beliau ditemui oleh Abdullah ibn Ummu Maktum seorang buta yang miskin. la tidak mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang duduk melayani rombongan itu. la lalu meminta Rasuullah SAW supaya mengajarnya apa yang telah disampaikan Allah kepadanya. Ini membuat Rasulullah SAW tidak senang dan memasamkan mukanya dan tidak melayaninya, lalu turun al-Qur’an dengan permulaan surah ini yang mengecam Rasulullah SAW dengan kecaman yang amat tajam, dan menjelaskan hakikat nilai dalam kehidupan kelompok Islam dengan gaya bahasa yang kuat dan tegas di samping menjelaskan hakikat dan sifat dakwah Islam.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ
karena telah datang seorang buta kepadanya.
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ
maka kamu melayaninya.
وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
وَهُوَ يَخْشَىٰ
sedang ia takut kepada (Allah),
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
maka kamu mengabaikannya.
كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌۭ
Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُ
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
فِى صُحُفٍۢ مُّكَرَّمَةٍۢ
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
مَّرْفُوعَةٍۢ مُّطَهَّرَةٍۭ
yang ditinggikan lagi disucikan,
بِأَيْدِى سَفَرَةٍۢ
di tangan para penulis (malaikat),
كِرَامٍۭ بَرَرَةٍۢ
yang mulia lagi berbakti.
Bagian yang kedua membicarakan keingkaran dan kekufuran manusia yang jahat terhadap Tuhannya. la mengingatkan manusia asal-usul kejadiannya dan bagaimana Allah memberi kepadanya kemudahan untuk memilih jalan yang betul, bagaimana Allah mengurus kematian dan kebangkitannya dan bagaimana manusia lalai melaksanakan perintah-Nya selepas itu:
قُتِلَ ٱلْإِنسَٰنُ مَآ أَكْفَرَهُ
Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?
مِنْ أَىِّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ
Dari apakah Allah menciptakannya?
مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ
Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.
ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ
Kemudian Dia memudahkan jalannya.
ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقْبَرَهُۥ
kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ
Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
Bagian yang ketiga mengajak hati manusia supaya memperhatikan satu bahan yang amat penting kepadanya yaitu makanannya dan makanan ternakannya dan bagaimana Allah mengaturkan pentadbiran dan perencanaan-Nya mengeluarkan makanan itu sama seperti Dia mengaturkan pentadbiran dan perencanaan-Nya untuk menciptakan diri manusia itu sendiri:
فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّۭا
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّۭا
kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّۭا
lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
وَعِنَبًۭا وَقَضْبًۭا
anggur dan sayur-sayuran,
وَزَيْتُونًۭا وَنَخْلًۭا
zaitun dan kurma,
وَحَدَآئِقَ غُلْبًۭا
kebun-kebun (yang) lebat,
وَفَٰكِهَةًۭ وَأَبًّۭا
dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
مَّتَٰعًۭا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ
untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Bagian yang terakhir membicarakan Hari Kiamat yang gegap-gempita yang akan datang dengan segala malapetakanya yang tergambar jelas pada setiap ucapannya, di samping tergambar jelas kesan-kesannya yang dahsyat pada hati manusia, hingga ia melupakan segala sesuatu yang lain darinya dan tergambar pada wajah-wajah mereka yang berdebu:
فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ
dari ibu dan bapaknya,
وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ
dari istri dan anak-anaknya.
لِكُلِّ ٱمْرِئٍۢ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍۢ شَأْنٌۭ يُغْنِيهِ
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍۢ مُّسْفِرَةٌۭ
Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
ضَاحِكَةٌۭ مُّسْتَبْشِرَةٌۭ
tertawa dan bergembira ria,
وَوُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۭ
dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
dan ditutup lagi oleh kegelapan.
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ
Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
مَآ ءَامَنَتْ قَبْلَهُم مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَٰهَآ ۖ أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ
“Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa penduduk Mekkah berkata kepada Nabi SAW, “Sekiranya apa yang engkau katakan itu benar dan engkau menghendaki agar kami beriman kepadamu, coba jadika Gunung Shafa ini emas.” Datanglah Jibril dan berkata, “Sekiranya engkau mau, pastilah apa yang dikehendaki oleh kaummu itu akan terwujud. Namun sekiranya mereka tidak beriman setelah dikabulkan permintaannya, mereka dengan serta merta akan disiksa tanpa diberi tempo lagi. Atau engkau sendiri menangguhkan dalam mengabulkan permintaan mereka dengan harapan agar mereka beriman.” Ayat ini turun sebagai peringatan kepada Nabi SAW bahwa kaum-kaum sebelum mereka pun pernah meminta mukjizat, akan tetapi setelah dikabulkan, mereka tetap kufur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةًۭ وَٰحِدَةًۭ ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًۭا
“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’. Demikianlah, supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum musyrikin berkata, “Sekiranya Muhammad itu seorang Nabi, sebagaimana pengakuannya, tentu Allah tidak akan menyiksanya dengan jalan menurunkan al-Quran seayat dua ayat. Mengapa Allah tidak menurunkan al-Quran sekaligus saja?”. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai penjelasan mengenai hal tersebut.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Hakin, dan adl-Dliya’ di dalam kitab al-Mukhtarah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Menurut al-Hakim, hadits ini shahih.
Dia Memasamkan Muka
Surat (80) - Makkiyah - 42
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ
karena telah datang seorang buta kepadanya.
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ
maka kamu melayaninya.
وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
وَهُوَ يَخْشَىٰ
sedang ia takut kepada (Allah),
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
maka kamu mengabaikannya.
كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌۭ
Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُ
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
فِى صُحُفٍۢ مُّكَرَّمَةٍۢ
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
مَّرْفُوعَةٍۢ مُّطَهَّرَةٍۭ
yang ditinggikan lagi disucikan,
بِأَيْدِى سَفَرَةٍۢ
di tangan para penulis (malaikat),
كِرَامٍۭ بَرَرَةٍۢ
yang mulia lagi berbakti.
قُتِلَ ٱلْإِنسَٰنُ مَآ أَكْفَرَهُ
Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?
مِنْ أَىِّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ
Dari apakah Allah menciptakannya?
مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ
Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.
ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ
Kemudian Dia memudahkan jalannya.
ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقْبَرَهُۥ
kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ
Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّۭا
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّۭا
kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّۭا
lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
وَعِنَبًۭا وَقَضْبًۭا
anggur dan sayur-sayuran,
وَزَيْتُونًۭا وَنَخْلًۭا
zaitun dan kurma,
وَحَدَآئِقَ غُلْبًۭا
kebun-kebun (yang) lebat,
وَفَٰكِهَةًۭ وَأَبًّۭا
dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
مَّتَٰعًۭا لَّكُمْ وَلِأَنْعَٰمِكُمْ
untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ
dari ibu dan bapaknya,
وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ
dari istri dan anak-anaknya.
لِكُلِّ ٱمْرِئٍۢ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍۢ شَأْنٌۭ يُغْنِيهِ
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍۢ مُّسْفِرَةٌۭ
Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
ضَاحِكَةٌۭ مُّسْتَبْشِرَةٌۭ
tertawa dan bergembira ria,
وَوُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۭ
dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
dan ditutup lagi oleh kegelapan.
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ
Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ada sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang menganggap tidak menjadi dosa berbuat maksiat setelah mengucapkan Laa ilaaha illallaah (Tidak ada tuhan selain Allah). Hal ini didasarkan pada suatu ketetapan bahwa amal seseorang tidak akan diterima kalau diikuti syirik. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan petunjuk bagaimana cara taat kepada Allah. Setelah turun ayat tersebut, para sahabat berhati-hati dalam melaksanakan amalnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi di dalam Kitabush Shalah, yang bersumber dari Abul ‘Aliyah.
Abdullah bin `Ubaidillah al-Anshari bercerita, “Aku ikut menguburkan Tsabit bin Qais RA yang gugur dalam perang Yamamah. Ia adalah juru bicara kaum Anshar. Nabi SAW pernah menyatakan bahwa ia termasuk ahli surga. Ketika kami memasukkan jenazah Tsabit ke dalam liang lahat, kami mendengar Tsabit berkata, ‘Muhammad adalah utusan Allah, Abu Bakar itu orang yang tepercaya, ‘Umar itu seorang syahid, dan ‘Utsman itu orang yang baik lagi penyayang.’ Kami mendengar ucapannya secara langsung, padahal ia sudah menjadi mayat.”
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan pengarang kitab Al-Syifa’)
Hassan adalah penyair Rasulullah dan penyair Islam. Dan Tsabit adalah juru bicara Rasulullah dan juru bicara Islam. Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas, dan mempesonakan.
Pada tahun datangnya utusan-utusan dari berbagai penjuru semenanjung Arabia, datanglah ke Madinah perutusan Bani Tamim yang mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kami datang akan berbangga diri kepada anda, maka izinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami menyampaikannya!”. Maka Rasulullah SAW tersenyum, lalu katanya, “Telah kuizinkan bagi juru bicara kalian, silahkanlah!”.
Juru bicara mereka Utharid bin Hajib pun berdirilah dan mulai membanggakan kelebihan-kelebihan kaumnya. Dan sewaktu menyatakannya telah selesai, Nabi pun berkata kepada Tsabit bin Qais, “Berdirilah dan jawablah!”.
Tsabit bangkit menjawabnya, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah”.
“Langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, dan titah-Nya telah berlaku padanya”.
“Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya, tidak ada satu pun yang ada, kecuali dengan karunia-Nya.”
“Kemudian dengan qodrat-Nya juga, dijadikan-Nya kita golongan dan bangsa-bangsa.”
“Dan Ia telah memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang Rasul-Nya. Berketurunan, berwibawa dan jujur kata tuturnya. Dibekali-Nya Al Quran, dibebaninya amanat. Membimbing ke jalan persatuan umat. Dialah pilihan Allah dari yang ada di alam semesta. Kemudian ia menyeru manusia agar beriman kepadanya, maka berimanlah orang-orang Muhajirin dari kaum dan kerabatnya, yakni orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal perbuatannya. Dan setelah itu, kami orang-orang Anshar, adalah yang pertama pula memperkenankan seruannya. Kami adalah pembela-pembela agama Allah dan penyokong-penyokong Rasul-Nya.”
Tsabit telah menyaksikan perang Uhud bersama Rasulullah SAW dan peperangan-peperangan penting sesudah itu. Corak pengorbanannya menakjubkan, sangat menakjubkan! Dalam peperangan-peperangan menumpas orang-orang murtad, ia selalu berada di barisan terdepan, membawa bendera Anshar, dan menebaskan pedangnya yang tak pernah menumpul dan tak pernah berhenti.
Di perang Yamamah yang telah beberapa kali kita bicarakan, Tsabit melihat terjadinya serangan mendadak yang dilancarkan oleh tentara Musailamatul Kaddzab terhadap Muslimin di awal pertempurang, maka berserulah ia dengan suaranya yang keras memberi peringatan, “Demi Allah, bukan begini caranya kami berperang bersama Rasulullah SAW!”. Kemudian ia pergi tak seberapa jauh, dan tiada lam kembali sesudah membalut badannya dengan balutan jenazah dan memakai kain kafan, lalu berseru lagi, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa mereka - yakni pasukan Musailamah - dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang diperbuat mereka - yakni Kaum Muslimin yang kendor semangat dalam peperangan- !”.
Maka segeralah bergabung kepadanya Salim bekas hamba sahaya Rasulullah SAW sedang ia adalah pembawa bendera Muhajirin. Keduanya menggali lubang yang dalam untuk mereka berdua. Kemudian mereka masuk dengan berdiri di dalamnya, lalu mereka timbunkan pasir ke badan memreka sampai menutupi setengah badan. Demikianlah mereka berdiri tak ubah bagai dua tonggak yang kokoh, setengah badan mereka terbenam ke dalam pasir dan terpaku ke dasar lubang, sementara setengah bagian atas dadanya, kening dan kedua lengan mereka siap menghadapi tentara penyembah berhala dan orang-orang pembohong. Tak henti-hentinya mereka memukulkan pedang terhadap setiap tentara Musailamah yang mendekat, sampai akhirnya kedua mereka mati syahid di tempat itu, dan reduplah sudah sinar sang surya mereka!
Peristiwa syahidnya kedua pahlawan RA ini bagaikan pekikan dahsyat yang menghimbau kaum Muslimin agar segera kembali kepada kedudukan mereka hingga akhirnya mereka berhasil menghancurkan tentara Musailamah, mereka tersungkur menutupi tanah bekas mereka berpijak.
Dan Tsabit bin Qais yang mencapai kedudukan tertinggi sebagai juru bicara dan sebagai pahlawan perang, juga memiliki jiwa yang selalu ingin kembali menghadap Allah Maha Pencipta, hatinya khusyu’ dan tenang tenteram. Ia adalah pula salah seorang Muslimin yang paling takut dan pemalu kepada Allah.
Sewaktu turun ayat mulia:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ
“Sesungguhnya Allah tidak suka pada setiap orang yang congkak dan sombong.” (Q.S. Luqman 31:18)
Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis. Lama dia terperanjak begitu saja, sehingga sampai beritanya kepada Rasulullah SAW yang segera memanggilnya dan menanyainya. Maka kata Tsabit, ” Ya Rasulullah, aku senang kepada pakaian yang indah, dan kasut yang bagus, dan sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang yang congkak yang sombong!”. Bicaranya ini dijawab oleh Nabi SAW sambil tertawa senang, “Engkau tidaklah termasuk dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dalam kebaikan, dan mati dengan kebaikan, dan engkau akan masuk surga!”.
Dan sewaktu turun firman Allah Ta’ala:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lainnya, karena yang demikian amalan kalian akan gugur, sedang kalian tidak menyadarinya!” (Q.S. Al Hujurat 49:2)
Tsabit munutup pintu rumahnya lagi, lalu menangis. Rasul mencarinya dan menanyakan tentang dirinya, kemudian mengirimkan seseorang untuk memanggilnya. Dan Tsabit pun datanglah.
Rasulullah menanyainya mengapa tidak kelihatan muncul, yang dijawabnya, “Sesungguhnya aku ini seorang yang keras suara, dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu wahai Rasulullah! Karena itu tentulah amalanku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka!”. Rasulullah pun menjawabnya, “Engkau tidaklah termasuk salah seorang di antara mereka bahkan engkau hidup terpuji, dan nanti akan berperang sampai syahid, hingga Allah bakal memasukkanmu ke dalam surga!”.
Masih tinggal dalam kisah Tsabit ini satu peristiwa lagi, yang kadang-kadang tak dapat diterima dengan puas oleh hati orang-orang yang memusatkan pikiran, perasaan dan mimpi-mimpi mereka kepada alam kebendaan yang sempit semata, yakni alam yang selalu mereka raba, mereka lihat atau mereka cium!
Namun bagaimanapun, peristiwa itu benar-benar terjadi dan tafsirnya nyata dan mudah bagi setiap orang yang di samping mempergunakan mata lahir, mau pula mempergunakan mata batinnya.
Setelah Tsabit menemui syahidnya di medan pertempuran, melintaslah di dekatnya salah seorang Muslimin yang baru saja masuk Islam dan ia melihat pada tubuh Tsabit masih ada baju besinya yang berharga maka menurut dugaannya ia berhak mengambilnya untuk dirinya, lalu diambilnya. Dam marilah kita serahkan kepada empunya riwayat intu untuk menceritakannya sendiri:
Selagi seorang laki-laki Muslimin sedanga nyenyak tidur, ia didatangi Tsabit dalam tidurnya itu, yang berkata padanya, “Aku hendak mewasiatkan kepadamu satu wasiat, tapi janganlah sampai kamu katakan ini hanya mimpi lalu kamu sia-siakan!”
“Sewaktu aku gugur sebagai syahid, lewat ke dekatku seseorang Muslim lalu diambilnya baju besiku. Rumahnya sangat jauh, orang tersebut memiliki kuda kepalanya mendongak ke atas seakan-akan tertarik tali kekangnya.”
“Baju besi itu disimpan ditutupi sebuah periuk besar, dan periuk itu ditutupi unta (sakeduk). Pergilah kepada Khalid minta ia untuk mengirimkan orang mengambilnya! Kemudia apabila kamu sampai ke kota Madinah menghadap Khalifah Abu Bakar, katakan kepadanya bahwa aku mempunyai utang sekian banyaknya, aku mohon agar ia bersedia membayarnya.”
Maka sewaktu laki-laki itu terbangun dari tidurnya, ia terus menghadap Khalid bin Walid, lalu diceritakannyalah mimpi itu. Khalid pun mengirimkan untuk mencari dan mengambil baju besi itu, lalu menemukannya sebagai digambarkan dengan sempurna oleh Tsabit.
Setelah kaum Muslimin pulang kembali ke Madinah, orang tadi menceritakan mimpinya kepada khalifah, beiau pun melaksanakan wasiat Tsabit. Satu-satunya wasiat dari seorang yang telah meninggal ialah wasiatnya Tsabit bin Qais yang terlaksana dengan sempurna.
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Dan jangan sekali-kali kalian sangka orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, karena sebenarnya mereka masih hidup, dan diberi rizki di sisi Tuhan mereka!” (Q.S. Ali Imran 3:169)